Indonesia dan Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

Delapan puluh tahun sudah perjalanan bangsa ini sebagai sebuah negara merdeka dilalui. Dengan berbagai capaian pembangunan yang patut diapresiasi, Indonesia telah menempuh jalan panjang sebagai negara berkembang yang terus berbenah. Melewati berbagai persoalan yang nyaris meruntuhkan persatuan nasional, mulai dari konflik ideologi, krisis ekonomi, gejolak politik, hingga ketimpangan pembangunan antarwilayah, Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang utuh dan berdaulat. Dalam lintasan sejarah yang tidak selalu mulus tersebut, bangsa ini mampu menjaga keutuhan wilayah, mempertahankan kedaulatan politik, serta merawat kesadaran kolektif sebagai satu bangsa. Ketahanan nasional inilah yang menjadi modal sosial dan politik yang sangat berharga untuk melanjutkan agenda pembangunan Indonesia di masa depan

Namun, refleksi atas perjalanan panjang tersebut juga menuntut kejujuran kolektif. Setiap fase kepemimpinan nasional, mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, memiliki orientasi dan prioritas pembangunan yang berbeda, sekaligus meninggalkan warisan persoalan masing-masing. Pada masa Orde Lama yang berlangsung selama 22 tahun, pembangunan lebih diarahkan pada konsolidasi politik dan peneguhan identitas nasional, namun kerap mengorbankan stabilitas ekonomi. 32 tahun Orde Baru kemudian menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas utama melalui industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam, yang berhasil menciptakan stabilitas dan pertumbuhan, tetapi juga melahirkan ketimpangan struktural. Sementara itu, era Reformasi kita saat ini yang telah berlangsung 26 tahun membawa semangat demokratisasi dan desentralisasi, namun sering kali dihadapkan pada fragmentasi kebijakan pembangunan dan lemahnya integrasi antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan yang justru semakin mempertajam ketimpangan struktural serta kerentanan lingkungan.

 

Paradigma Pembangunan kita saat ini

Seperti pesan yang disampaikan founding father bangsa ini - Bung Karno - “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kita perlu membaca kembali perjalanan pembangunan Indonesia secara jujur, terutama di era Reformasi, sebagai bagian dari kajian panjang pembangunan nasional. Secara umum, pembangunan Indonesia sejak era Orde Baru hingga Reformasi cenderung mengadopsi prinsip ekonomi linear, yaitu mempercepat pertumbuhan melalui eksploitasi besar-besaran sumber daya alam dengan perhatian yang minim terhadap keberlanjutan ekologis. Pada era Orde Baru, pembangunan dilakukan dengan cara memprioritaskan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi, ekspansi perkebunan dan pertambangan, serta penggunaan sumber daya alam secara masif untuk ekspor dan investasi. Di era Reformasi, meskipun tata kelola pemerintahan dan desentralisasi diperkuat, pola pembangunan linear ini masih berlanjut, dengan banyak proyek infrastruktur dan ekspansi komoditas yang tetap memanfaatkan sumber daya alam sebagai motor utama pertumbuhan.

Dampak dari model pembangunan ini kini semakin nyata. Indonesia terus menghadapi kerusakan lingkungan yang serius, termasuk deforestasi yang signifikan setiap tahunnya. data resmi menyebut deforestasi mencapai ratusan ribu hektar per tahun, yang sebagian besar berasal dari pembukaan lahan perkebunan, pertambangan, dan konflik lahan dengan masyarakat adat. Selain itu, jutaan hektar hutan hilang sejak tahun 2000, sebagian besar akibat pembukaan lahan untuk sektor ekstraktif, dengan dampak serius terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, dan kemampuan alam menyerap karbon. Sungai-sungai besar di berbagai daerah pun menunjukkan tingkat pencemaran sedang hingga berat, sementara pencemaran plastik dan kerusakan terumbu karang terus mengancam ekosistem laut Indonesia.

Dampak sosial-ekologisnya juga belum hilang dari kehidupan rakyat. Bencana banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur yang melanda wilayah Sumatera baru-baru ini merupakan contoh dari bagaimana degradasi lingkungan memperparah kerentanan masyarakat terhadap fenomena alam ekstrem. Laporan mencatat lebih dari seribu korban jiwa dan ratusan ribu rumah terdampak, serta kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah di beberapa provinsi. Dengan demikian, evaluasi kolektif atas perjalanan pembangunan Indonesia memperlihatkan bahwa model pembangunan linear tanpa penekanan pada keberlanjutan telah meninggalkan warisan masalah lingkungan dan sosial yang serius. Hal Ini tentu menjadi signal bagi kita untuk merumuskan strategi pembangunan yang tidak hanya menekankan pertumbuhan angka, tetapi juga menjamin keseimbangan ekologis dan keadilan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Kenyataan tersebut menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pergeseran paradigma pembangunan yang lebih mendasar. Ketergantungan pada model ekonomi linear—ambil, olah, buang—tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan abad ke-21. Krisis iklim, keterbatasan sumber daya alam, serta meningkatnya risiko bencana menuntut pendekatan pembangunan yang mampu menyatukan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Di sinilah paradigma pembangunan berkelanjutan menemukan relevansinya, bukan sebagai tuntutan global semata, tetapi sebagai kebutuhan nasional untuk menjaga daya tahan ekonomi dan ekologi Indonesia dalam jangka panjang.

Paradigma pembangunan berkelanjutan menempatkan manusia dan alam dalam hubungan yang saling bergantung, bukan saling mengeksploitasi. Pembangunan tidak lagi diukur hanya dari kecepatan pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kualitas pertumbuhan tersebut: sejauh mana ia menciptakan kesejahteraan yang merata, mengurangi ketimpangan, serta menjaga daya dukung lingkungan. Tanpa perubahan paradigma ini, berbagai capaian pembangunan yang diraih selama puluhan tahun berisiko rapuh dan tidak berkelanjutan, bahkan berbalik menjadi beban bagi generasi mendatang.

 

Ekonomi Sirkular sebagai Jalan Keluar

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, ekonomi sirkular hadir sebagai pendekatan yang paling relevan dan aplikatif bagi Indonesia. Berbeda dengan ekonomi linear yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam secara terus-menerus, ekonomi sirkular menekankan efisiensi, pemanfaatan kembali sumber daya, pengurangan limbah, serta penciptaan nilai tambah dari siklus produksi dan konsumsi yang lebih panjang. Paradigma ini tidak menempatkan lingkungan sebagai penghambat pembangunan, melainkan sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih tangguh dan inklusif.

Bagi Indonesia, ekonomi sirkular bukan sekedar agenda lingkungan, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi rakyat. Pengelolaan sampah berbasis komunitas, industri daur ulang, energi terbarukan skala lokal, serta pariwisata berkelanjutan membuka peluang besar penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan UMKM. Data Bappenas menunjukkan bahwa penerapan ekonomi sirkular berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto secara signifikan sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dan emisi karbon. Dengan kata lain, ekonomi sirkular memungkinkan Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan berbasis eksploitasi menuju pertumbuhan berbasis inovasi dan keberlanjutan.

Lebih jauh, ekonomi sirkular juga menjawab persoalan ketimpangan yang selama ini menjadi dampak laten pembangunan. Ketika sumber daya dikelola secara berkelanjutan dan berbasis lokal, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi korban atau penonton pembangunan, melainkan pelaku utama dalam rantai nilai ekonomi. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya, yaitu pertumbuhan yang tidak hanya besar secara angka, tetapi juga adil secara distribusi dan lestari secara ekologis.

Oleh karenanya, Delapan dekade perjalanan Indonesia sebagai bangsa merdeka seharusnya menjadi momentum untuk tidak sekadar merayakan capaian, tetapi juga melakukan koreksi arah secara berani dan bijaksana. Pembangunan yang berkelanjutan bukanlah pilihan ideologis semata, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keberlangsungan kehidupan bangsa. Ekonomi sirkular menawarkan jalan agar Indonesia dapat tetap tumbuh tanpa terus menggerus alam dan memperlebar ketimpangan sosial. Jika sejarah mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan dan kedaulatan, maka tantangan masa depan menuntut kita untuk mewariskan lingkungan yang lestari dan sistem ekonomi yang adil bagi generasi mendatang. Di titik inilah pembangunan berkelanjutan menemukan maknanya yang paling hakiki: memastikan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan besar tidak berakhir pada krisis ekologis, melainkan berlanjut sebagai kesejahteraan yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ditulis oleh: Ahmad U Alfatih - Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (BELHPI) DPD PKS Kota Serang

Posting Komentar

0 Komentar