Lima bulan terakhir yang cukup hectic. Sejak diumumkan kepengurusan baru sekira bulan Agustus, kegiatan demi kegiatan secara maraton dilaksanakan sebagai proses transisi awal kepemimpinan. Kegiatan pisah sambut pengurus lama dan baru, Kunjungan ke DPC-DPC, konsolidasi internal pengurus, pelantikan pengurus baru, lanjut ikut Rakerwil, hingga pelaksanaan Rakerda.
Secara khusus dalam agenda Rakerwil dan Rakerda, kita dikonsolidasikan secara ideologis untuk memahami Renstra DPP PKS 2025-2030. Renstra DPP PKS 2025–2030 menegaskan satu arah besar perjuangan yaitu menjadi Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin yang kokoh dan terdepan menuju Indonesia Madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Visi ini bukan sekadar slogan ideologis, melainkan peta jalan strategis yang dirancang untuk menjawab tantangan bangsa secara konkret melalui penguatan kader, kaderisasi, pelayanan publik, dan pemenangan pemilu dalam satu tarikan napas yang utuh, dirumuskan dalam kerangka K2P2.
Tantangan Sosial-Ekonomi di Kota Serang
Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pada akhir 2024, sekitar 5,65 persen penduduk Kota Serang hidup di bawah garis kemiskinan. Persentase ini, meskipun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetap menunjukkan bahwa lebih dari puluhan ribu warga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Selain itu, angka pengangguran di Kota Serang masih tinggi. Berdasarkan data BPS Kota Serang tahun 2024 yang diperoleh dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Serang angka pengangguran mencapai 26.686 jiwa. Data ini menunjukkan besarnya tantangan ketenagakerjaan dan kualitas sumber daya manusia di wilayah berkembang seperti Kota Serang.
Populasi yang terus tumbuh juga memberi tekanan pada sistem pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur sosial lainnya. Data terakhir menunjukkan bahwa Kota Serang memiliki populasi lebih dari 734 ribu jiwa menurut data Kota Serang dalam Angka 2025, ini berarti layanan publik harus berjalan dengan kemampuan adaptif yang tinggi terhadap dinamika demografis.
Masalah-masalah ini tidak berdiri sendiri. Lemahnya ekonomi keluarga berkelindan dengan rendahnya kualitas pendidikan dan rentannya relasi sosial. Ketika keluarga goyah, maka daya tahan sosial ikut melemah. Di titik inilah, Renstra DPP PKS menemukan relevansinya. Pendekatan PKS tidak dimulai dari kekuasaan semata, tetapi dari manusia, keluarga, dan komunitas sebagai fondasi peradaban.
K2P2: Menyambungkan Ideologi, Pelayanan, dan Pemenangan
Kerangka Kader – Kaderisasi – Pelayanan Publik – Pemenangan Pemilu (K2P2) yang dirumuskan DPP PKS adalah upaya menyatukan kerja ideologis dan kerja elektoral dalam satu sistem yang saling menguatkan . Di Kota Serang, kerangka ini sangat kontekstual.
Pertama, penguatan kader dan keluarga kader menjadi kunci. Program seperti Rumah Keluarga Indonesia (RKI) bukan sekadar aktivitas pembinaan internal, tetapi menjadi intervensi sosial langsung dalam isu pendidikan keluarga, kesehatan mental, dan ketahanan ekonomi rumah tangga. Ketika kader kuat secara nilai dan keluarga stabil, maka partai memiliki fondasi sosial yang kokoh.
Peradaban yang maju tidak ditandai dengan pembangunan fisik semata. Tetapi peradaban yang maju ialah peradaban yang dimulai dari ketahanan keluarga yang kokoh.
Kedua, kaderisasi yang terstruktur dan masif melalui SAKTI (Sekolah Kader Patriot Indonesia), JOIN PKS, dan API (Akademi Pemimpin Indonesia) hendak menjawab persoalan regenerasi dan kepemimpinan lokal. Kota Serang membutuhkan stok pemimpin muda yang tidak hanya populer, tetapi matang secara nilai, kapasitas, dan integritas. Di sinilah kaderisasi bukan lagi rutinitas organisasi, melainkan investasi jangka panjang bagi tata kelola kota.
Ketiga, pelayanan dan advokasi kebijakan melalui AKAR (Advokasi Kebijakan Untuk Rakyat) menjadi jembatan antara struktur partai dan masyarakat luas. Dalam konteks Kota Serang, AKAR berfungsi sebagai instrumen untuk memastikan aspirasi warga diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang nyata, baik melalui kerja legislasi, pengawasan, maupun advokasi sosial. Kepuasan publik terhadap kinerja wakil rakyat PKS menjadi ukuran keberhasilan, bukan sekadar jumlah kegiatan. Terlebih bahwa PKS Kota Serang saat ini menempati posisi sebagai unsur Pimpinan DPRD sekaligus Kepala Daerah.
Keempat, pemenangan pemilu melalui JAWARA (Jaring Wakil Rakyat) bukan dimaknai sebagai kerja elektoral sempit, melainkan hasil akumulasi dari kepercayaan publik yang dibangun melalui pelayanan, ketokohan, dan kedekatan struktural berbasis dapil. Pemenangan tidak hadir tiba-tiba di tahun politik, tetapi dipersiapkan sejak jauh hari melalui kerja nyata yang konsisten.
Menjawab Masalah Lapangan dengan Pendekatan Terpadu
Kekuatan Renstra DPP PKS terletak pada pendekatan sistemiknya. Masalah pengangguran di Kota Serang, misalnya, tidak dijawab hanya dengan kritik kebijakan, tetapi melalui Gerakan Ekonomi Mandiri (GEMA) yang mendorong akses kerja, usaha produktif, dan kemandirian ekonomi kader serta masyarakat. Masalah rendahnya literasi digital dan tata kelola organisasi dijawab dengan TOTAL-PKS (Transformasi Digital PKS), yang menata sistem, data, dan manajemen secara modern dan transparan.
Dengan pendekatan ini, PKS tidak berdiri sebagai “partai reaktif”, tetapi sebagai partai solutif yang hadir sebelum masalah membesar dan bertahan setelah sorotan publik mereda.
Penutup: Dari Kota Serang untuk Indonesia Madani
Renstra DPP PKS 2025–2030 memberikan kerangka besar perjuangan nasional. Namun, masa depan Indonesia Madani justru ditentukan di tingkat lokal. Ketika Renstra nasional diterjemahkan menjadi program konkret, terukur, dan relevan dengan kebutuhan warga Kota Serang, maka PKS tidak hanya membangun elektabilitas, tetapi juga legitimasi moral dan sosial.
Di titik inilah, kerja partai bertemu dengan harapan rakyat. Bukan sekadar memenangkan pemilu, tetapi menghadirkan politik yang membina, melayani, dan memberdayakan. Dari Kota Serang, ide besar itu menemukan maknanya.

0 Komentar