Di tengah derasnya perubahan dunia, ketika teknologi melaju lebih cepat dari imajinasi, ada satu profesi yang tetap menjadi jangkar peradaban: guru. Mereka adalah sosok yang bekerja dalam sunyi, namun menentukan arah masa depan sebuah bangsa. Hari Guru Nasional menjadi kesempatan bagi kita untuk menundukkan kepala, merenungkan jasa mereka, dan mengakui bahwa perjalanan Indonesia menuju masa depan tak akan pernah terpisah dari ketulusan para pendidiknya.
Kita hidup di era disrupsi, ketika kecerdasan buatan mampu menjawab soal, merangkum buku, bahkan membuat karya kreatif. Namun ada satu hal yang tidak bisa diberikan oleh teknologi: sentuhan manusia yang membangun karakter. Guru menghadirkan itu semua—keteladanan, empati, teguran yang membangunkan kesadaran, juga dorongan halus yang membuat seorang anak berani mempercayai dirinya sendiri. Di tengah derasnya informasi, guru menjadi penyaring nilai. Di tengah gempuran konten digital, guru menjadi penuntun moral. Dan di tengah ketidakpastian, guru adalah sumber ketenangan.
Lebih dari sekadar pengajar, guru adalah penjaga nilai. Mereka menanamkan disiplin, menumbuhkan rasa hormat, dan menyiapkan generasi untuk mampu berdiri tegak menghadapi dunia. Dalam kelas yang mungkin sederhana, guru sedang melakukan pekerjaan raksasa: mereka membangun karakter bangsa—batu bata per batu bata. Tidak dengan pidato, tetapi dengan keteladanan. Tidak dengan sorak pujian, tetapi dengan kesabaran yang tidak pernah berhenti.
Namun di balik semua pengabdian itu, guru juga manusia yang menghadapi tantangan. Kurikulum yang berubah, beban administratif yang berat, fasilitas yang tidak selalu memadai, serta harapan masyarakat yang terus menggunung. Walau demikian, mereka tetap hadir setiap pagi dengan senyum yang sama; dengan panggilan hati yang sama: mendidik anak bangsa agar tidak tersesat dalam perkembangan zaman.
Guru tidak pernah bekerja untuk mendapatkan tepuk tangan. Mereka bekerja untuk melihat anak-anak melangkah lebih jauh dari yang mereka impikan. Dan ketika seorang murid menggapai keberhasilan, guru tahu bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari perjalanan itu—meskipun namanya tidak disebutkan. Itulah kemuliaan yang hanya dimiliki profesi ini.
Di Hari Guru Nasional 2025 ini, mari kita renungkan kembali satu kebenaran sederhana: tidak ada peradaban besar tanpa guru yang berjuang dengan hati.
Dan tugas kitalah, sebagai masyarakat dan pembuat kebijakan, untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan penghormatan, dukungan, dan perlindungan yang layak. Guru tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Guru Hebat, Indonesia Kuat.



0 Komentar